English Indonesian

Workshop Seni Tari Jepen

Workshop Seni Tari Jepen Kutai yang di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, dan biasanya dilaksanakan di Pondok Jajak Indah Tenggarong, acara tersebut di buka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP. Acara ini masuk dalam jadwal kegiatan Erau International Folklore And Art Festival (EIFAF)

Workshop Seni Tari Jepen Kutai ini di adakan setiap kali acara Erau, dengan tujuan lebih memperkenalkan tarian daerah kutai kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas. Hadir dalam kegiatan Workshop Seni Tari Jepen Kutai tersebut diantaranya terdiri dari berbagai komunitas, Pelajar dan grup sanggar seni yang ada di Kutai Kartanegara, seperti Reog Karyo, Bunga mekar, Mamanda Panji, Sempekat Tenyo Benuaq, Haoran Alfatihah, SMP negeri 1 Tenggarong, Anggrek Bulan, Serai Wangi, Longkang Berseri, Sasak NTB.

Workshop Seni Tari Jepen Kutai ini menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Irianto Catur yang juga sebagai Koreografer dari Jakarta IKJ, Wahyuni Irianto dan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Awang Safrudin, Ketiga narasumber ini memberikan pemaparan materi dan pengetahun praktek langsung mengenai tarian yang sudah ada maupun yang masih dalam pembuatan. Irianto Catur menjelaskan Dalam Seni pertunjukan, Jumlah seniman pelaku selalu lebih banyak dari pada seniman penciptanya, demikian pula halnya dalam seni tari, jumlah penari lebih banyak dari pada pencipta atau penata tari. Seseorang yang bermaksud menjadi penari atau penata tari harus melengkapi dirinya dengan kemampuan, diantaranya Keterampilan Gerak, Penghayatan dan Kemampuan Dramatik, Rasa Irama, Rasa Ruang, Daya Ingat dan Kemampuan Kreatif.

Irianto Catur dan awang syafrudin mengajak semua peserta untuk bersama - sama mencoba dan membahas gerakan tari, karna setiap daerah pasti memiliki gerak tari dan batasan dalam tarian tersebut. Tari sebagai seni pertunjukan harus di tata dan di susun secara estetis sedemikian rupa sehingga mampu menyentuh batin para penontonnya. Tari tradisi memang memiliki aturan - aturan yang ketat, tetapi tidak berarti tari tradisi itu tidak memberikan kesempatan bagi berkembangnya menjadi tari pertunjukan, untuk itu di butuhkan pengetahuan tentang komposisi tari, bagi imajinasi yang subur, sesungguhnya tradisi menyediakan bahan - bahan yang berlimpah untuk di ciptakan kembali.


  • CIOFF
  • EIFAF 2016
  • Pemerintah
    Kabupaten Kutai Kartanegara
  • Flag Counter