English Indonesian

Mengulur Naga

Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, telah berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, di hadiri Sultan Kutai H. Adji Mohamad Salehoeddin II, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kerabat Kesultanan Ing Martadipura dan Jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Kasdam, Kejaksaan Tinggi Kaltim, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd, Wakil Bupati Drs. Edi Damansyah,M.Si, Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Kapolres Kutai Kartanegara, Dandim 0609 Tenggarong, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni, MPP., dan Pimpinan serta tim kesenian 10 negara anggota International al Council of Organizations of folklore Festivals and Folk Art ( CIOFF ).

Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd., menutup secara resmi Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Adat Kutai and International Folklore And Art Festival ( EIFAF ) di tandai dengan prosesi mengulur naga. Prosesi ini di gelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura, Replika Naga akan menyusuri sungai mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana.

Dua ekor naga yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala terbuat dari kayu yang di ukir mirip kepala naga dan di hiasi sisik warna warni dan diatas kepala terpasang ketopong ( mahkota ), di bagian leher terdapat kalung yang dihiasi kain berumbai warna warni. Bagian leher yang berkalung di sammbungkan kebagian badan yang terbuat dari rotan dan bambu, dan di bungkus dengan kain kuning. Pada kain kuning ini disusun sisik - sisik ular besar. Badannya seakan - akan seekor naga yang siap berjalan kearah tujuannya, bagian ekor terdiri terbuat dari kayu yang telah diukir menyerupai seekor naga.

Selama tujuh hari tujuh malam dua ekor naga ini telah di semayamkan di bagian serambi kanan keratin untuk naga laki, dan di bagian bawah sekitar dada di taruh / di tempatkan masing - masing penduduk lengkap dengan isinya di hadapan serambi kiri kanan tempat naga bersemayam terdapat titian di sebut rangga titi tempat naga di turunkan yang di hampari kain kuning untuk menuju sungai, sebelum naga di turunkan dari persemayamannya ada prosesi persembahan oleh dewa belian memberi jamuan dan besawai bahwa naga akan di turunkan. Selesai ritual oleh dewa belian 17 orang laki - laki berpakaian lengkap ( celana panjang batik, baju cina lengan panjang putih, sarung diikatkan di pinggang dan di kepala diikatkan potongan kain batik di sebut pesapu ). Mulai bergerak mengangkat kedua naga tersebut bersamaan dan mulai menuruni titian menuju sungai, sedangkan dewa belian berjalan di bagian muka sebagaian muka sebagai kepala jalan sebagai kepala jalan sambil membawa perapen / persepan.

Saat perjalanan naga menuju ke sungai di hantar oleh empat orang pangkon laki dan empat orang pangkon bini dan seorang membawa molo / guci untuk untuk mengambil air tuli yang di apit oleh dewa belian laki bini yang membawa perapen / persepan. Sedangkan di kiri dan kanan dua naga di apit oleh prajurit yang berpakaian lengkap dan membawa tombak. Sesampainya di tepi sungai ( pelabuhan ) dewa belian melakukan memang dan dua ekor naga di naikkan keatas kapal ( perahu motor ) dengan posisi menghadap kehaluan / depan kapal. Kapal dan pengiring naga bertolak ke ulu sungai menuju kepala benua sebagaimana titik awal prosesi menjamu benua dan berputar - putar sebanyak tiga kali baru menuruni sungai ke hilir. Dalam perjalanan tepatnya di pamerangan desa jembayan loa kulu, perjalanan kapal di tampatkan, alunan gamelan di bunyikan dan dewa belian be mamang untuk pemberitahuan kepada sekalian penghuni / penduduk / masyarakat gaib di sekitar pamerangan bahwa naga sedang di turunkan menuju tepian batu kutai lama, anggana. Selepas wilayah pamerangan, kapal membawa naga melaju kembali hingga di tepian aji samarinda seberang, di tepian aji ini di sambut dengan acara ritual tokoh - tokoh suku bugis, kapal melambat dan dewa belian bemamang sambil mengalunkan gamelan, juga sebagai pemberitahuan bahwa prosesi naga sedang di turunkan di kutai lama, sesampainya di kutai lama dewa belian bemamang dan alunan gamelan di mainkan, kapal berputar di tepian batu kutai lama, di Tepaian Batu ritual penyambutan di lakukan oleh para tokoh - tokoh masyarakat kutai Lama dan para pengiring naga sambil menurunkan / melaboh dua ekor naga di tengah masyarakat Kutai Lama.

Sebelum naga tenggelam, bagian kepala naga tepatnya di daerah kalung naga harus di sembelih / di potong, begitupun di bagian ekor di potong. Bagian kepala dan ekor naga yang telah di potong di bawa kembali ke Tenggarong untuk di semayamkan hingga acara ngulur naga yang akan datang. Saat prosesi ini air tuli di ambil untuk belimbur. Badan naga yang telah terpotong, menjadi perebutan masyarakat yang menghadiri prosesi ini dengan mengambil sisik - sisiknya dengan berbagai macam tujuan yang bersifat mistis. Ada yang berperahu dan berenang mendekati badan naga yang siap di sisiki oleh para pengunjung, secara perlahan, kerangka badan naga tenggelam di tutup gelombang / riak - riak air menghantarkannya ke dasar sungai. Kapal pembawa naga kembali ke tenggarong dan di semua kampong/ desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.

Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.


  • CIOFF
  • EIFAF 2017
  • Pemerintah
    Kabupaten Kutai Kartanegara
  • Flag Counter