English Indonesian

Sendratari Kesetiaan Sang Abdi Kabupaten Sleman

Perjanjian Giyanti Th. 1755 melahirkan babak baru kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta. Pangeran Mangkubumi saat dinobatkan menjadi raja belum memiliki bangunan keraton sebagai pusat kerajaan. Untuk membangun sebuah keraton memerlukan material diantaranya adalah batu Gamping. Berkaitan dengan hal itu diperintahkanlah Abdi Wirosuto untuk memimpin penambangan batu gamping bersama pengikutnya.

Penambangan Batu Gamping ternyata tidak mudah karena wilayah gunung gamping dikuasasi oleh mahluk halus Jim bernama Poleng. Merasa wilayahnya dirusak dirusak oleh Wirosuto beserta pengikutnya, Jim Poleng murka. Para penambang selalu di ganggu setiap mengambil batu gamping, bahkan menimbulkan korban. Wirosuto dan istrinya segera menemui Jim Poleng dan mereka beradu kesaktian, namun Jim Poleng terlalu sakti sehingga tewaslah Abdi Wirosuto.

Pangeran Mangkubumi sangat berduka atas peristiwa tersebut ,kemudian dibuatlah sesaji berupa sepasang boneka laki-laki dan perempuan (bekakak) sebagai penggganti ataupelengkap sarana dalam pengembangan batu gamping, agar seluruh pekerja batu gamping beserta masyarakat disekitar gunung Gamping mendapatkan keselamatan.

Semenjak diselenggarakannya upacara sesaji Bekakak yang jatuh pada hari Jum’at di antara 10 s/d 20 bulan Sapar (Kalender Jawa), keadaan menjadi aman dan tidak ada korban lagi. Upacara tradisi tersebut rutin dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang dengan nama upacara sarapan Bekakak. Pada tahun ini upacara tradisi ini akan di laksanakan pada tanggal 18 Nopember 2016.

Berita Lainnya


  • CIOFF
  • EIFAF 2016
  • Pemerintah
    Kabupaten Kutai Kartanegara
  • Flag Counter