English Indonesian

Ritual Bepelas Erau Adat Kutai 2016

Ritual Bepelas di mulai pada minggu malam 21 Agustus 2016, yang dilaksanakan pada pukul 20.00 sampai dengan selesai di Keraton Kukar /Museum Mulawarman. Hadir dalam upacara Bepelas ini diantaranya dihadiri Sultan Kutai Kartanegara ing martadipura, Putra Mahkota A.P.A.P Praboe Anum Surya Adiningrat, kerabat sultan, Ptl. Sekda Ir. H. Marli.M.,Si, dan perwakilan peserta folklore dari Negara Rumania. Dan undangan yang hadir turut serta juga dalam tarian Kenjar Laki dan Kenjar Bini bergantian setelah prosesi bepelas tersebut berlangsung.

Ritual Bepelas didahului dengan ritual Merangin oleh Dewa dan Belian di Serapo Belian. Usai Merangin, Dewa dan Belian menuju ke keraton dan berputar sebanyak tujuh kali di area Bepelas, kemudian duduk bersila berjajar, Dewa di sebelah kanan dan Belian di sebelah kiri dengan dipimpin oleh Pawang menghaturkan sembah hormat. Ritual dilanjutkan dengan sajian Tari Selendang oleh Dewa dengan diiringi gamelan sambil mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pada saat yang sama Pemangkon Dalam menyalakan lilin di empat sudut. Selanjutnya ditampilkan Tari Kipas dan Tari Jung Njuluk yang dibawakan oleh Dewa. Para penari mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pawang Dewa melakukan Memang di belakang Tiang Ayu diiringi alunan seruling. Memang bertujuan untuk mengundang Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga Pohon Ayu dari gangguan roh-roh jahat selama ritual Bepelas berlangsung. Ritual berikutnya adalah penampilan Tari Memuja Panah dengan menggunakan anak panah yang ujungnya dibelah menjadi tujuh mata api. Penari berputar satu kali di area Bepelas, kemudian pada putaran kedua melepaskan busur ke empat penjuru untuk menghilangkan gangguan selama ritual Bepelas berlangsung.

Pawang Dewa kembali melakukan Memang untuk mengundang Pangeran Sri Ganjur dengan iringan seruling dan dewa meletakkan empat buah ikat kepala dan empat buah gada yang ditempatkan pada dua buah baki. Bersamaan dengan itu, muncul empat orang laki-laki, dua di kiri dan dua di kanan, untuk menarikan Tari Ganjur. Penari memasangkan ikat kepala dan memegang gada sambil menari sekali putaran di keempat sudut ruangan dengan iringan irama Ganjur. Pada putaran kedua, tampil tujuh orang Dewa menari sambil membawa kipas dan diikuti oleh dua orang penari Ganjur untuk berputar sekali putaran. Pawang Dewa Laki dan Bini, Pangkon Laki dan Bini, peniup seruling, dan pembawa perapen bangkit dari duduknya dan menjemput Sultan di ruang salin busana kebesaran. Seruling terus menerus ditiupkan hingga terdengar sayup dan tak lama kemudian rombongan atau utusan ini kembali lagi ke area Bepelas bersama Sultan.

Sultan duduk di kursi, Pawang melakukan Memang, dan Sultan bangkit dari duduk kemudian menuju ke Tiang Ayu. Sementara itu, dua orang kerabat memegang tali Juwita dan Kain Cinde sebagai pijakan Sultan meniti dan menginjak Batu Tijakan. Ketika kaki sultan memijak Batu Tijakan terdengar bunyi menggelegar (dentuman meriam) satu kali sebagai tanda bahwa Bepelas pada malam pertama (Bepelas diadakan selama 7 malam) sedang berlangsung. Pada saat bersamaan, di luar keraton dihelat ritual Dewa Mengoyak Rendu dengan iringan alunan seruling. Ritual ini dimulai ketika Dewa naik ke atas Balai Tiang 16 sambil mengoyak Rendu dan melakukan Memang untuk mengundang atau memanggil air. Sementara itu, utusan Dewa dan Belian turun ke tepi sungai Mahakam untuk mengambil air dan dicampurkan dengan Air Kutai Lama sehingga menjadi Air Tuli. Sementara itu, di dalam keraton ditampilkan Tari Saong Manok yang dilakukan oleh dua orang penari yang berperan sebagai dua ekor ayam jago yang sedang bertarung, hingga salah satu di antaranya kalah yang ditandai oleh patokan di kepala dan berputar beberapa kali. Dilanjutkan dengan penampilan Tari Kanjar Loa Niung oleh tujuh orang Dewa dan Tari Kanjar Katore yang masing-masing dilakukan sebanyak satu kali putaran. Sultan kembali ke tengah area Bepelas didampingi oleh putra dan kerabat, sedangkan sebagai pengiring dilakukan Tari Kanjar Bini berbusana Taqwo.

Usai Tari Kanjar Bini dimainkan, Dewa menyerahkan sehelai Selendang Kuning kepada putra atau kerabat sebagai pemimpin atau kepala penari yang kemudian diikuti oleh kerabat untuk menarikan Tari Kanjar Buah Kamal. Pangkon Dalam Bini menyalakan lilin kecil di empat sudut sambil berdiri hingga tarian sebanyak dua putaran selesai dilakukan.Demong melaporkan kepada Sultan bahwa ritual Bepelas malam pertama telah selesai dilakukan. Sultan kemudian kembali ke tempat peristirahatan, sementara itu alunan gamelan penutup dibunyikan dan lilin dimatikan. Bepelas dilaksanakan selama tujuh malam. Setiap malam dilakukan ledakan (suara dentuman meriam) sebanyak jumlah malam yang dilaksanakan. Malam pertama hingga keenam dilakukan ledakan sesuai dengan jumlah malam, sedangkan pada malam ke tujuh hanya dilakukan satu kali ledakan.

Berita Lainnya


  • CIOFF
  • EIFAF 2016
  • Pemerintah
    Kabupaten Kutai Kartanegara
  • Flag Counter